Technicalist vs Fundamentalist

.

“The Fundamentalist studies the cause of market movement,

While The Technicalist studies the effect

.

.

Technicalist vs Fundamentalist

.

Halo para Sahabat sekalian, khususnya yang saat ini berprofesi sebagai trader, apa kabar?

.

Beberapa waktu lalu, saya menemukan suatu materi yang menurut saya cukup menarik untuk saya sharingkan kepada para Sahabat semuanya…

.

.

Dan kisahnya dimulai dari sebuah perbedaan tindakan antara si A dan si B, berikut ini…

.

Ada dua orang yang ingin membeli sebuah rumah tinggal.

.

Sebut saja, namanya si A dan si B. Dan keduanya berada di dalam suatu lokasi pameran property yang sama.

.

Si A dan Si B, mempunyai cara yang berbeda dalam ‘berburu’ rumah ini.

.

Si A duduk dengan tenang, dan memperhatikan kerumunan orang, rumah tipe apa yang paling banyak diburu, dari developer mana saja, baru kemudian mengambil keputusan membeli rumah tersebut berdasarkan ‘hasil pengamatannya itu, tanpa mengukur nilai intrisiknya (nilai barangnya) sendiri.

.

Namun, hal yang berbeda dilakukan oleh si B, untuk mendapatkan ‘barang buruan-nya’ tersebut.

.

Si B mempelajari spesifikasi rumah tinggal yang diincar, dan pergi ke setiap stand developer, mencatat, membandingkan, dan mempelajari nilai barangnya (intrinsic value), sebelum akhirnya si B memutuskan untuk membeli rumah tersebut.

.

.

Bila Sahabat sendiri, yang ingin membeli rumah di dalam suatu pameran properti, hal apakah yang akan Sahabat lakukan?

Apakah Sahabat akan melakukannya seperti si-A ? Ataukah seperti si-B?

.

.

Menurut Edianto Ong, didalam bukunya ‘Technical Analysis for Mega Profit”, didalam ilustrasi di atas :

si A ini seringkali disebut sebagai golongan ‘Technicalist’,

Sedangkan si B seringkali disebut golongan ‘Fundamentalist

.

Singkatnya, ‘technicalist’ memprediksi pergerakan arah dengan menganalisa aksi pasar, sedangkan ‘fundamentalist’ fokus pada data-data keuangan untuk mencari nilai sesungguhnya (intrinsic value) dari suatu saham.

.

 ‘Technicalist’ percaya bahwa “efek adalah segala yang dibutuhkan, alasan atau penyebabnya tidaklah penting”

.

Sebaliknya, bagi ‘Fundamentalist’, mereka harus mengetahui alasan dan penyebabnya terlebih dulu.

.

Bagi Fundamentalist, Jika harga pasar diatas ‘intrinsic value’ maka hal ini disebut “over-priced” – tindakan yang harus diambil adalah aksi jual. Sebaliknya jika harga pasar di bawah ‘intrinsic value”, maka disebut “under-valued” – tindakan yang harus diambil adalah aksi beli.

.

Baik ‘technicalist’ maupun ‘fundamentalist’ , keduanya mempunya tujuan yang sama, yaitu memprediksi arah pasar, hanya saja metode pendekatan yang mereka lakukan berbeda.

.

Sayapun merenung sejenak, dan berkata dalam hati :

“Wah, berarti kebiasaan saya mengamati pergerakan pola candle (‘candle-pattern’), garis-garis MA, garis support-resistant, pita Boulinger Band, yang saya lakukan hampir setiap hari, berarti saya masuk ke dalam golongan ’technicalist’ dong… “

.

Sayapun semakin tertarik, dan melanjutkan membaca buku ini lebih serius lagi…

.

Dan Edianto Ong kembali menekankan…   

“Meskipun sebagian orang menyatakan dirinya adalah seorang technicalist ataupun fundamentalist, pada kenyataannya, mereka yang sudah cukup lama berinvestasi di ‘paper asset’ biasanya memiliki sedikit banyak pengetahuan tentang keduanya.

Hanya saja, ada yang lebih condong ke technical, atau fundamental.”

.

Sulit untuk mengatakan mana yang lebih baik, namun secara garis besar, dapat disimpulkan bahwa…

.

“Technical Analysis mempunyai dampak lebih bagi para traders yang mempunyai jangka waktu (time frame) yang lebih pendek, sedangkan fundamental analysis digunakan oleh para Investor yang memiliki pandangan (view) dengan jangka waktu lebih panjang.”

.

Sebagai contoh, misalkan seorang short-term trader (baca: day-trader / scalper), yang tidak mempertahankan posisinya lebih dari beberapa hari, tentu akan sulit mengambil keputusan berdasarkan analisis fundamental.

Dalam time-trame ini, mereka tentu lebih menitikberatkan pada analisa teknikal, karena pendekatan dengan cara ini lebih ringkas.

.

Sebaliknya, bagi seorang investor jangka panjang, yang misalnya – ingin secara rutin dan berkala mengumpulkan sejumlah saham dalam portopolionya untuk masa pensiun nanti, tentu analisa fundamental akan lebih membantu.

.

Dan Saya pun kembali belajar suatu hal baru lagi, bahwa :

.

“The Fundamentalist studies the cause of market movement,

While The Technicalist studies the effect

.

Ingatan saya kembali beralih kepada si A, dan si B, pada cerita di atas, dan saya berusaha menarik sebuah kesimpulan kecil :

.

“Berarti si A membeli rumah tersebut, karena punya tujuan ingin menjualnya dalam waktu secepat mungkin, bahkan kalau perlu sesaat sesudah dia membeli property tersebut”, sehingga dia mendapatkan keuntungan dalam waktu yang cepat…

.

Sedangkan si B membeli rumah karena punya tujuan ingin memakainya dalam jangka waktu yang cukup lama, dan jika dia menjualnya sewaktu-waktu karena kebutuhan, maka dia akan mendapatkan keuntungan yang cukup besar…

.

.

.

Warm Regards,

.

.

Albertus Arifin

SUKSES ITU BERPOLA, NAMUN KEGAGALAN JUGA BERPOLA.

MARI FOKUS PADA POLA SUKSES, NISCAYA ANDA DAN SAYA MENUAI SUKSES