Profit Seiklasnya . com
Trading dengan nyaman dan enjoy!
Like
Like
Tweet
Tweet
+1
+1
youtube
youtube

Empat Langkah Teruji Menjadi Trader Sukses

Empat Langkah Teruji Menjadi Trader Sukses

.

….seorang Trader yang mempunyai pengalaman berada dalam kondisi sinkron harmonis dengan pergerakan market, mampu mengantisipasi perubahan arah market yang seringkali tidak terduga, pada saat yang tepat (precise moment)

.

.

Empat Langkah Teruji Menjadi Trader Sukses

.

Halo para Sahabat sekalian, bagaimana kabarnya hari ini ? Semoga semuanya boleh berjalan lancar ya…

.

Beberapa waktu lalu, Saya mendapatkan kesempatan membaca buku “Trading in the Zone” karya Mark Douglas, dan sayapun tertarik untuk mensharingkan salah satu bab terbaik (menurut Saya), yakni bab 4 : The Uncertainty Principle

.


.

Sebelumnya, ijinkah Saya bertanya , Apakah Sahabat pernah menjumpai kondisi-kondisi seperti ini sewaktu Trading :

  • Sering terkena ‘jebakan batman’ waktu mengikuti pergerakan global market?
  • Seringkali deg-degan pada waktu awal trading (apalagi waktu bell start trading berbunyi : teng teng teng…) ?
  • Seringkali takut dan khawatir waktu trading
  • Rasa Percaya Diri (terlalu) tinggi, namun berakhir dengan loss?
  • Sudah lakukan analisa kandidat, namun loss?
  • Sudah lakukan persiapan yang baik (2 jam sebelum trading) sudah amati market, namun berakhir loss?
  • Sering terlalu cepat entry? Ataupun telat entry?
  • Sering terlambat exit?

 

Baiklah…

Jujur saja, beberapa kondisi di atas juga Saya alami di dalam proses trading Saya, selama beberapa tahun ini…

Sehingga, akhirnya menuntun langkah Saya untuk mempelajari buku ini… 

 

Saya harapkan, artikel sederhana ini bisa membawa setitik ‘pencerahan’  bagi Sahabat semuanya, dalam perjalanan menuju ‘Profit Konsisten’

.

.

Menurut Mark Douglas,  ada 4 Langkah Teruji Menjadi Trader Sukses, yakni :

  1. Ketika Anda melakukan Trading tanpa rasa takut, ataupun ‘terlalu percaya diri’, karena Anda sadar dan menerima semua resiko yang mungkin terjadi – acceptance (to trade without fear or over-confidence);
  2. Ketika Anda tidak lagi memprediksi kemana arah market. Cukup posisikan diri Anda sebagai penonton, lalu nikmati, dan interpretasikan apa yang ditawarkan oleh pasar (perceive what the market is offering from its perspective);
  3. Ketika Anda fokus dan ‘hadir’ (present) pada saat trading berlangsung (stay completely focused in the “now moment opportunity flow,”)
  4. Secara ‘spontan’ Anda mengambil posisi entry (spontaneously enter the “zone,”)

 

Melihat empat poin di atas, maka Kata kunci yang Saya tangkap adalah “to be in the zone”, yakni Bagaimana Kita dan Market bisa berada pada kondisi sinkron…

.

Baca juga : 3 Filosofi Utama Trader tipe technicalist

.

Dan contoh yang paling mudah dari frasa “Sinkron”, ataupun “COMPLETE HARMONY” adalah apabila Anda pernah melihat rombongan besar burung-burung yang terbang secara beriringan, dan bergerak menari-nari dengan sangat sinkron, dan meskipun mereka terbang dengan sangat cepat, dan gerakannya meliuk-liuk, namun mereka tidak pernah “bertabrakan” satu sama lain…

Lebih jelasnya, silakan lihat video ini :

.


Menurut Mark Douglas, seorang Trader yang mempunyai pengalaman berada dalam kondisi sinkron harmonis dengan pergerakan market, mampu mengantisipasi perubahan arah market yang seringkali tidak terduga, pada saat yang tepat (precise moment);

.

.

Saya pun mengiyakan pernyataan ini, namun demikian ada sesuatu yang masih terasa mengganjal di hati, karena ada suatu PERTANYAAN BESAR yang masih saja belum terjawab, yakni :

.

Bagaimana caranya untuk bisa mencapai kondisi sinkron harmonis tersebut?

.

Dan Saya pun semakin fokus membaca buku ini, berusaha untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan di atas…

.

.

dan ternyata……

.

Saya cukup beruntung, karena Mark kembali menjelaskan 2 langkah taktis menuju kondisi tersebut, yakni  :

  1. Belajarlah untuk tetap fokus pada kondisi saat ini (“now moment opportunity flow” ). Untuk mencapai pengalaman “synchronicity” pikiran Anda hendaknya terbuka pada realita pergerakan market saat ini. Anda tidak perlu berusaha memprediksi arah market, jadilah penonton yang baik, ikuti saja kemana market bergerak, dan nikmati (market’s truth from it’s prespective);
  2. Latihlah pikiran Anda untuk menerima dan mempercayai informasi kreatif, yang dihasilkan oleh otak kanan (otak kanan=pikiran kreatif, intuisi), yang biasanya disabotase oleh otak kiri (otak kiri = pikiran rasional, logika). Sesudah Anda pasrah mengikuti arah market, maka sekarang waktunya menunggu Informasi kreatif untuk muncul, bila memang dia diberi kesempatan untuk hadir…

.

Dan Mark juga mengajak Anda dan Saya untuk mendefinikan ulang apa arti kata “Trader”.

.

Kebanyakan orang mendefinisikan bahwa menjadi Trader adalah sama dengan menjadi “ahli analisa market yang handal”.

.

Ini adalah suatu kesalahan fatal!

.

Ketika Trader memaksakan diri agar “analisa”nya menjadi kenyataan, maka sebenarnya dia sudah lari dari realita dan memerankan dirinya sebagai aktor utama, bukan lagi menjadi penonton yang baik (lihat poin no.2 langkah teruji ,di atas);

.

Sayapun berhasil menarik sebuah kesimpulan kecil :

.

Memang benar ketika Saya memposisikan disi sebagai penonton dari suatu pertandingan (baca : chart trading), maka Saya dapat melihat dan mengamati pertandingan ini , dengan lebih jelas dan detail, dibandingkan ketika Saya berperan sebagai pemain utama dalam pertandingan tersebut.

 .

 .

.

Warm Regards,

 

 

Albertus Arifin

Yang sedang belajar menjadi ‘penonton yang baik’




DOWNLOAD SEKARANG!

SUKSES ITU BERPOLA, NAMUN KEGAGALAN JUGA BERPOLA.

MARI FOKUS PADA POLA SUKSES, NISCAYA ANDA DAN SAYA MENUAI SUKSES

Technicalist VS Fundamentalist

Technicalist vs Fundamentalist

.

“The Fundamentalist studies the cause of market movement,

While The Technicalist studies the effect

.

.

Technicalist vs Fundamentalist

.

Halo para Sahabat sekalian, khususnya yang saat ini berprofesi sebagai trader, apa kabar?

.

Beberapa waktu lalu, saya menemukan suatu materi yang menurut saya cukup menarik untuk saya sharingkan kepada para Sahabat semuanya…

.


.

Dan kisahnya dimulai dari sebuah perbedaan tindakan antara si A dan si B, berikut ini…

.

Ada dua orang yang ingin membeli sebuah rumah tinggal.

.

Sebut saja, namanya si A dan si B. Dan keduanya berada di dalam suatu lokasi pameran property yang sama.

.

Si A dan Si B, mempunyai cara yang berbeda dalam ‘berburu’ rumah ini.

.

Si A duduk dengan tenang, dan memperhatikan kerumunan orang, rumah tipe apa yang paling banyak diburu, dari developer mana saja, baru kemudian mengambil keputusan membeli rumah tersebut berdasarkan ‘hasil pengamatannya’ itu, tanpa mengukur nilai intrisiknya (nilai barangnya) sendiri.

.

Namun, hal yang berbeda dilakukan oleh si B, untuk mendapatkan ‘barang buruan-nya’ tersebut.

.

Si B mempelajari spesifikasi rumah tinggal yang diincar, dan pergi ke setiap stand developer, mencatat, membandingkan, dan mempelajari nilai barangnya (intrinsic value), sebelum akhirnya si B memutuskan untuk membeli rumah tersebut.

.

.

Bila Sahabat sendiri, yang ingin membeli rumah di dalam suatu pameran properti, hal apakah yang akan Sahabat lakukan?

Apakah Sahabat akan melakukannya seperti si-A ? Ataukah seperti si-B?

.

.

Menurut Edianto Ong, didalam bukunya ‘Technical Analysis for Mega Profit”, didalam ilustrasi di atas :

si A ini seringkali disebut sebagai golongan ‘Technicalist’,

Sedangkan si B seringkali disebut golongan ‘Fundamentalist’

.

Singkatnya, ‘technicalist’ memprediksi pergerakan arah dengan menganalisa aksi pasar, sedangkan ‘fundamentalist’ fokus pada data-data keuangan untuk mencari nilai sesungguhnya (intrinsic value) dari suatu saham.

.

 ‘Technicalist’ percaya bahwa “efek adalah segala yang dibutuhkan, alasan atau penyebabnya tidaklah penting”

.

Sebaliknya, bagi ‘Fundamentalist’, mereka harus mengetahui alasan dan penyebabnya terlebih dulu.

.

Bagi Fundamentalist, Jika harga pasar diatas ‘intrinsic value’ maka hal ini disebut “over-priced” – tindakan yang harus diambil adalah aksi jual. Sebaliknya jika harga pasar di bawah ‘intrinsic value”, maka disebut “under-valued” – tindakan yang harus diambil adalah aksi beli.

.

Baik ‘technicalist’ maupun ‘fundamentalist’ , keduanya mempunya tujuan yang sama, yaitu memprediksi arah pasar, hanya saja metode pendekatan yang mereka lakukan berbeda.

.

Baca juga : 3 Filosofi Utama Trader tipe technicalist

.

Sayapun merenung sejenak, dan berkata dalam hati :

“Wah, berarti kebiasaan saya mengamati pergerakan pola candle (‘candle-pattern’), garis-garis MA, garis support-resistant, pita Boulinger Band, yang saya lakukan hampir setiap hari, berarti saya masuk ke dalam golongan ’technicalist’ dong… “

.

Sayapun semakin tertarik, dan melanjutkan membaca buku ini lebih serius lagi…

.

Dan Edianto Ong kembali menekankan…   

“Meskipun sebagian orang menyatakan dirinya adalah seorang technicalist ataupun fundamentalist, pada kenyataannya, mereka yang sudah cukup lama berinvestasi di ‘paper asset’ biasanya memiliki sedikit banyak pengetahuan tentang keduanya.

Hanya saja, ada yang lebih condong ke technical, atau fundamental.”

.

Sulit untuk mengatakan mana yang lebih baik, namun secara garis besar, dapat disimpulkan bahwa…

.

“Technical Analysis mempunyai dampak lebih bagi para traders yang mempunyai jangka waktu (time frame) yang lebih pendek, sedangkan fundamental analysis digunakan oleh para Investor yang memiliki pandangan (view) dengan jangka waktu lebih panjang.”

.

Sebagai contoh, misalkan seorang short-term trader (baca: day-trader / scalper), yang tidak mempertahankan posisinya lebih dari beberapa hari, tentu akan sulit mengambil keputusan berdasarkan analisis fundamental.

Dalam time-trame ini, mereka tentu lebih menitikberatkan pada analisa teknikal, karena pendekatan dengan cara ini lebih ringkas.

.

Sebaliknya, bagi seorang investor jangka panjang, yang misalnya – ingin secara rutin dan berkala mengumpulkan sejumlah saham dalam portopolionya untuk masa pensiun nanti, tentu analisa fundamental akan lebih membantu.

.

Dan Saya pun kembali belajar suatu hal baru lagi, bahwa :

.

“The Fundamentalist studies the cause of market movement,

While The Technicalist studies the effect

.

Ingatan saya kembali beralih kepada si A, dan si B, pada cerita di atas, dan saya berusaha menarik sebuah kesimpulan kecil :

.

“Berarti si A membeli rumah tersebut, karena punya tujuan ingin menjualnya dalam waktu secepat mungkin, bahkan kalau perlu sesaat sesudah dia membeli property tersebut”, sehingga dia mendapatkan keuntungan dalam waktu yang cepat…

.

Sedangkan si B membeli rumah karena punya tujuan ingin memakainya dalam jangka waktu yang cukup lama, dan jika dia menjualnya sewaktu-waktu karena kebutuhan, maka dia akan mendapatkan keuntungan yang cukup besar…

.

.

.

Warm Regards,

.

.

Albertus Arifin




DOWNLOAD SEKARANG!

SUKSES ITU BERPOLA, NAMUN KEGAGALAN JUGA BERPOLA.

MARI FOKUS PADA POLA SUKSES, NISCAYA ANDA DAN SAYA MENUAI SUKSES

3 Filosofi Utama Trader Tipe Technicalist!

3 Filosofi Utama Trader tipe Technicalist

.

Chart merupakan cerminan psikologi dari pelaku pasar itu sendiri!

.

.

3 Filosofi Utama Trader tipe Technicalist

.

Halo para Sahabat sekalian, apa kabar?

Kali ini saya akan men-sharingkan topik mengenai 3 filosofi utama dari Trader tipe Technicalist.

.

 

Sebelumnya, saya ingin berbagi foto ini kepada para Sahabat :

 

Silakan lihat foto ini dengan seksama, lalu simpulkan dengan cepat suasana dan nuansanya, apakah nuansa sedih ataukah bahagia? (jawab di dalam hati saja ya…)

Menurut Edianto Ong, didalam bukunya “Technical Analysis for Mega Profit”, ada tiga filosofi utama, dari Trader tipe Technicalist, yaitu:

  1. Pergerakan harga yang terjadi di pasar telah mewakili semua factor lain (market action discounts everything);
  2. Terdapat suatu pola kecenderungan dalam pergerakan harga (prices move in trends);
  3. Sejarah akan terulang (history repeat itself);

.

Pernyataan no.1, “Pergerakan harga yang terjadi di pasar telah mewakili semua faktor lain (Market action discounts everything)” adalah faktor terpenting dan menjadi dasar filosofi utama bagi seorang trader tipe ‘Technicalist’.

.

Mereka yakin bahwa segala sesuatu yang bisa mempengaruhi harga saham – baik dari segi fundamental, politik, maupun faktor-faktor lainnya – secara psikologi sebenarnya telah tercermin pada pergerakan harga yang terjadi di pasar.

.

Hal ini dikarenakan Hukum Penawaran dan Permintaan (Supply & Demand) yang membentuknya. Dari dasar hokum ekonomi ini, para pelaku “Trend Following Trading” ini menyimpulkan, bahwa :

.

“Jika harga naik, apapun alasannya, demand pasti lebih besar daripada supply, dan dari sisi fundamental mestinya bullish. Sebaliknya, jika harga turun, supply pastilah lebih besar daripada demand, dan dari sisi fundamental mestinya bearish.”

 .

Jadi chart sendiri tidaklah menyebabkan harga naik, ataupun turun, namun :

.

Chart merupakan cerminan psikologi dari pelaku pasar itu sendiri!

.

Oya, apakah para Sahabat masih ingat foto di atas?

Kesan apa yang muncul waktu Sahabat melihat foto tersebut?

Apakah suasana dan nuansanya terlihat bahagia?

Ya, betul, waktu itu kami memang bahagia. Kami sedang merayakan ulang tahun mama yang ke-78. Suatu momen penting dalam keluarga kami.

.

Dan, sebenarnya, melalui analogi foto diatas, Saya ingin menyampaikan bahwa :

.

“Chart” dapat diibaratkan seperti sebuah “foto”. Dari gambar yang terpotret di sebuah foto, kita dapat memperkirakan, apakah orang tersebut sedang sehat atau sakit, bahagia atau sedih, dan lain sebagainya.

.


Pernyataan pada poin 2 , bahwa “Terdapat suatu pola kecenderungan dalam pergerakan harga (Prices move in trends), merupakan adaptasi dari Hukum Newton I tentang pergerakan (Newton’s First Law of Motion).” 
.

Hukum tersebut dipaparkan oleh ilmuwan besar Sir Isaac Newton, pada makalahnya Philosophiae Naturalis Principia Mathematica menjelang akhir abad ke-16, yang secara garis besar menyimpulkan bahwa :

.
Sebuah pola pergerakan memiliki kecenderungan berlanjut daripada tidak

.
Dengan kata lain :

.

Sebuah pola pergerakan akan terus berlanjut, sampai terdapat tanda-tanda akan berhenti, atau berbalik arah.

.

Hal inilah yang menjadi prinsip dasar trader tipe ‘technicalist’ yang “menunggangi” sebuah pola kecenderungan atau trend, untuk menghasilkan keuntungan (profit).

.

Jadi:

.

Kemampuan untuk meng-identifikasi suatu trend merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan di dalam trading.

.

Pernyataan no.3 “History repeat itself”, menunjukkan bahwa suatu pola grafik (candle-pattern), yang sering terjadi, atau berulang dari waktu ke waktu. Hal ini merupakan akibat serta refleksi dari psikologis dan sifat dasar manusia, yang tetap sama sejak dulu.

.

Dan setelah membaca 3 filosofi utama trader tipe Technicalist ini, saya pun mendapatkan suatu keyakinan baru, bahwa…

.

Melatih kebiasaan mengidentifikasi suatu trend (candle-pattern), pada akhirnya akan meningkatkan kewaspadaan dan kompetensi di dalam proses trading saya, menjadi “conscious competence”

.

.

Warm Regards,

.

.

Albertus Arifin




DOWNLOAD SEKARANG!

SUKSES ITU BERPOLA, NAMUN KEGAGALAN JUGA BERPOLA.

MARI FOKUS PADA POLA SUKSES, NISCAYA ANDA DAN SAYA MENUAI SUKSES