Reverse Pattern

Reverse Pattern

Reverse Pattern

.

“Secepat kita mampu melihat lampu rem mobil yang menyala, secepat itu pula kita dapat memahami bahwa suatu pola candle akan berpotensi untuk berubah arah”

.

REVERSE PATTERN

.

Dan, ini semua diawali ketika Saya kembali melanjutkan membaca buku “Japanese Candlestick, Charting Technique”, karya Steve Nison, saya menemukan suatu frasa yang sangat menarik:

.

“Kegelapan mengelabuhi satu inchi di depan kita”

.

.

Dan kisahnya dimulai, ketika sebuah mobil terlihat berjalan maju dengan cepat. Sejenak, terlihat lampu rem di belakang mobil menyala merah, memberikan tanda mobil akan mengerem, dan segera berhenti.

Dan sejenak kemudian,  mobilpun berhenti.

.

Tetapi sekarang, saat mobilnya sedang berhenti, akankah sang sopir memutuskan untuk membalikkan arah mobilnya? Akankah dia tetap berhenti saja? Akankah dia memutuskan untuk berjalan maju kembali?

.

Hal yang sama, juga terjadi dengan tren. Sebuah pertanda kebalikan tren (Reverse Pattern),

mengandaikan bahwa tren sebelumnya sepertinya berubah, akan tetapi tidak perlu membalik.

Lampu rem yang menyala merupakan penanda / sinyal yang menunjukkan bahwa tren terdahulu (yaitu, mobil yang bergerak maju), akan segera berhenti.

Berita baiknya adalah :

.

“Secepat kita mampu melihat lampu rem mobil yang menyala, secepat itu pula kita dapat memahami bahwa suatu pola candle akan berpotensi untuk berubah arah”

.

.

Sebuah pertanyaan menyeruak cepat di dalam pikiran saya, “Apakah ada bentuk candle pattern khusus, yang merepresentasikan ‘lampu rem’ seperti ilustasi di atas?”

Sayapun meneruskan membaca buku tersebut, halaman demi halaman, sehingga akhirnya saya mendapatkan jawabannya: 

.

 “YA, ADA!”

.

Candle-candle khusus ini, dinamakan Garis-Garis Payung, sebab garis-garis ini kelihatan seperti payung.

Garis-garis Payung ini merupakan lili-lilin dengan bayangan-bayangan panjang, yang lebih rendah, dan sebuah batang tubuh nyata yang kecil pada ujung puncak dari rentang tersebut.

Garis-garis Payung ini sangat menarik, karena garis-garis ini dapat sekaligus sebagai petunjuk Bullish atau Bearish, sesuai lingkungan pasar tertentu.

.

Seperti juga ‘lampu rem’ dalam contoh di atas, bisa memberikan petunjuk, bahwa sebuah mobil akan berhenti, ataukah akan berbelok.

.

Maka, sayapun segera teringat kata-kata salah satu mentor saya di dalam kelas pada waktu itu,

.

“Waspada-lah ketika kita menemukan bentuk-bentuk candle yang ekornya / shadow –nya panjang, ini sebuah tanda bahwa sebuah trend akan berubah arah!!”,

.

…pikiran saya-pun segera berteriak, “barangkali inilah yang dimaksud, munculnya sebuah candle ‘hammer’ ataupun candle ‘hanging man’

.

(Thx, Coach, untuk insight-nya…)

.

Jika sebuah garis payung muncul pada waktu trend menurun, garis payung itu merupakan sebuah sinyal trend menurun semestinya berakhir (Reverse Pattern).

.

Hal ini cocok dengan ungkapan “ pasar sedang me’martil keluar dari sebuah dasar”.

.

Secara tidak sengaja, garis martil ini tampak seperti sebuah martil dengan kepala dan pegangannya.

.

Kata Jepang asli untuk martil ini adalah “TAKURI”, artinya “mencoba untuk mengukur tingkat kedalaman dari air dengan merasakan dasarnya”.

.

Kata ini merupakan sebuah analogi sempurna bagi garis martil ini ketika pasar mencoba untuk merasakan ‘dasar’ tersebut (pikiran saya langsung kembali teringat pada pelajaran Support/ Resistance analisis…)

.

Dan demikian juga, berlaku pula kebalikannya….

.

Jika sebuah garis payung muncul setelah sebuah rally, hal ini bisa saja justru menjadi puncak kebalikan yang potensial bagi sinyal bearish yang secara keseluruhan disebut sebagai “the hanging man” (orang yang menggantung).

.

Nama “orang yang menggantung”, ditarik dari fakta bahwa candle-nya nampak seperti seorang yang menggantung, dengan kaki-kakinya yang berayun

.

Wow, Kelihatannya semakin menarik,…  

.

sebuah candle yang sama bentuknya, namun bisa mempunyai nama dan arti yang berbeda, hanya dengan memperhatikan pola / pattern yang terjadi sebelumnya.

.

Menurut Steve Nison, “hammer”(martil)  dan “the hanging man”(orang yang  menggantung) dapat dikenali dengan tiga kriteria :

  1. Tubuh yang nyata (body candle) berada pada ujung atas rentang trading. Warna dari tubuh yang sebenarnya tidak penting;
  2. Martil tersebut memiliki sebuah bayangan panjang yang lebih rendah, paling tidak harus dua kali tingginya dari batang tubuh yang sebenarnya (body candle);
  3. Martil tersebut harus tidak memiliki, ataupun kalaupun punya sebuah bayangan yang sangat pendek;

.

Ada tiga aspek yang membedakan ‘orang bergantung’ dengan ‘martil’, yakni : trend, panjangnya pergerakan sebelum garis lilin, dan konfirmasi. Khususnya :

  • Trend : sebuah martil harus muncul setelah sebuah penurunan. Satu orang bergantung, harus muncul setelah sebuah rally;
  • Memperluas pergerakan garis lilin : sebuah martil masih berlaku, bahkan seandainya martil tersebut muncul segera setelah penurunan, akan tetapi satu orang bergantung harus muncul setelah sebuah rally yang diperpanjang, terlebih pada harga-harga yang selalu bertengger di atas;
  • Konfirmasi : ‘satu orang bergantung’ harus dikonfirmasikan (dengan candle trigger), sementara sebuah ‘martil’ tidak harus;

.

Membaca pencerahan di atas, maka Saya pun semakin penasaran, sehingga akhirnya saya membuka-buka kembali coret-coretan ‘analisa kandidat‘, untuk persiapan trading Saya malam itu (versi Saya sendiri), dan akhirnya Saya pun menemukan: 

.

Wow, it’s work!!!

.

(silakan tonton di menit ke 9:12 , ticker NVDA. Klik gambar dibawah ini!)

.

.

.

Salah seorang sahabat, bertanya secara kritis kepada saya, apakah candle ini juga berlaku pada chart  5menit-an, yang biasa digunakan untuk day-trade, maka saya pun mulai meng-explore chart  5 menitan untuk ticker NFLX dan TSLA,  dan saya-pun  menemukan :

.

gambar chart daily NFLX, time frame 5menit, september 2017
gambar chart daily TSLA, time frame 5menit, september 2017

Hal yang sama juga berlaku !!! (Thanks sahabat Joni S, atas pertanyaan kritis-nya)

.

Thesis saya ini (bahwa teknik candlestick juga berlaku di tf 5m’), adalah sebuah langkah awal yang baik, yang tentunya memerlukan penelusuran-penelusuran lanjutan (back test), untuk bisa dihitung tingkat probabilitas keberhasilannya.

Pada saat yang sama, Saya pun menyadari, memang “lebih mudah” bila kita menganalisa dengan kondisi ‘chart’ yang sudah jadi (market closed).

.

Demikian pula, akan menjadi sebuah tantangan yang mengasyikan, untuk menganalisa candle pattern, pada saat chart’ masih berjalan (market masih open), membuat Saya belajar untuk ‘lebih peka’ terhadap  sinyal dan tanda-tanda.

.

Sejenak Saya merenungkan ulang pembelajaran yang Saya dapatkan dari proses ini, dan menuliskannya dalam sebuah kalimat… 

Kuncinya adalah, ketika Saya bisa menjadi ‘cukup jeli’ untuk  

melihat sinyal dan tanda-tanda ‘Reverse Pattern’ yang muncul…  

maka hal ini akan memudahkan Saya untuk

Mengambil keputusan dengan tepat!

 

Warm Regards,

.

.

Albertus Arifin

Yang masih saja berlatih mengenali  sinyal dan tanda-tanda

.

P.S.

.

Apakah Sahabat seringkali mengalami LOSS di dalam tradingnya? 

Jangan-jangan Anda mempunyai salah satu dari 4 hal peyebab LOSS, sehingga bukannya profit yang seringkali didapatkan, namun malah kebalikannya. Pelajari lebih dalam disini!

.

SUKSES ITU BERPOLA, NAMUN KEGAGALAN JUGA BERPOLA.

MARI FOKUS PADA POLA SUKSES, NISCAYA ANDA DAN SAYA MENUAI SUKSES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 2 =